SMKN 3 Kota Bima Peringati Hari Kebudayaan Nasional 2026 Hadirkan N. Marewo Pakar Budaya Bima
KOTA BIMA – SMK Negeri 3 Kota Bima memperingati Hari Kebudayaan Nasional Tahun 2026 melalui kegiatan edukasi budaya, diskusi, pementasan seni tradisional, dan pameran karya batik bermotif kearifan lokal Bima.
Kegiatan yang berlangsung di halaman dan aula sekolah dengan konsep outdoor dan indoor pada Kamis (15/10/2026) ini menjadi wujud komitmen sekolah dalam menjaga, mengenalkan, dan melestarikan warisan budaya leluhur kepada generasi muda.
Kegiatan tersebut dihadiri dan dibuka oleh Kepala Bidang PSMK PK-PLK Dikpora NTB, Hasbi M. Sidik, S.Sos, MM. Turut hadir Kepala Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikpora) Wilayah VI Provinsi Nusa Tenggara Barat yang membawahi wilayah kerja Kabupaten Bima dan Kota Bima, Fahmi Hatib, S.Pd., M.Pd., Kepala SMKN 3 Kota Bima, Jainuddin, S.Pd., M.M., budayawan sekaligus penulis Bima, N. Marewo, serta pengawas pembina sekolah, Fathussyakir, S.Pd, MM.
Peringatan Hari Kebudayaan Nasional ini tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial, tetapi juga ruang pembelajaran bagi peserta didik untuk mengenal identitas budaya daerah, memahami nilai-nilai luhur masyarakat Bima, serta menumbuhkan kebanggaan terhadap kekayaan tradisi yang diwariskan oleh para pendahulu.
Dalam kegiatan tersebut, Hasbi M. Sidik menyampaikan apresiasi terhadap inisiatif SMKN 3 Kota Bima yang menghadirkan pembelajaran kebudayaan melalui pendekatan edukatif dan kreatif. Menurutnya, kegiatan semacam ini menjadi langkah positif dalam memperkenalkan budaya daerah kepada generasi muda.
Ia juga menyampaikan rencana agar SMKN 3 Kota Bima ke depan dapat dipertimbangkan sebagai sekolah kebudayaan, dengan melihat potensi peserta didik, aktivitas pembelajaran, dan berbagai kegiatan kebudayaan yang dikembangkan oleh sekolah.
Sementara itu, Kepala SMKN 3 Kota Bima, Jainuddin, menegaskan bahwa pelestarian budaya merupakan bagian penting dari pendidikan karakter. Sekolah tidak hanya bertanggung jawab membekali peserta didik dengan pengetahuan dan keterampilan vokasional, tetapi juga menanamkan nilai-nilai budaya, etika, dan identitas daerah.
Melalui kegiatan ini, pihak sekolah berharap peserta didik semakin mengenal akar budayanya, memiliki kepedulian terhadap warisan leluhur, serta mampu mengembangkan kreativitas dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kearifan lokal.
Suasana kegiatan semakin bermakna melalui diskusi dan edukasi budaya bersama budayawan N. Marewo. Dalam pemaparannya, ia mengulas filosofi Maja Labo Dahu dan Nggusu Waru sebagai nilai penting dalam kehidupan masyarakat Bima.
Maja Labo Dahu mengajarkan sikap malu dan takut berbuat salah, sedangkan Nggusu Waru dikenal sebagai pedoman nilai dan karakter ideal yang menjadi tuntunan dalam membentuk pribadi yang baik. Kedua nilai tersebut diharapkan tidak hanya dipahami sebagai warisan sejarah, tetapi juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan sekolah, keluarga, maupun masyarakat.
Selain diskusi budaya, para peserta didik turut menampilkan beragam atraksi seni tradisional Bima, di antaranya Rawa Mbojo, Gantao, Tari Sere, dan Bura Wunga Bongi Monca. Penampilan tersebut menjadi gambaran nyata bahwa tradisi lokal dapat terus hidup melalui ruang ekspresi dan partisipasi generasi muda.
Kreativitas peserta didik juga ditampilkan melalui presentasi Batik Mantika, produk karya siswa SMKN 3 Kota Bima yang mengangkat motif dan filosofi kearifan lokal Bima. Sejumlah motif yang diperkenalkan meliputi Uma Lengge, Bunga Satako, Cila Mboko, Lelehan Madu, dan Garoso.
Kehadiran Batik Mantika dalam peringatan tersebut menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan pengembangan keterampilan, kreativitas, dan kewirausahaan peserta didik. Nilai-nilai tradisional tidak hanya dipertahankan melalui pertunjukan seni, tetapi juga dikembangkan menjadi karya produktif yang memiliki nilai estetika dan ekonomi.
Melalui peringatan Hari Kebudayaan Nasional Tahun 2026, SMKN 3 Kota Bima berharap sekolah dapat terus menjadi ruang tumbuhnya generasi muda yang terampil, kreatif, berkarakter, dan mencintai budaya daerah.
Semangat tersebut sejalan dengan identitas sekolah sebagai Sakola Karawi Matupa, yang mendorong peserta didik menjadi generasi kreatif, religius, adaptif, berjiwa wirausaha, mandiri, terampil, unggul, dan berprestasi.
Pelestarian budaya pada akhirnya bukan hanya tentang menjaga tradisi masa lalu, melainkan juga memastikan nilai-nilai luhur masyarakat Bima tetap hidup, berkembang, dan diwariskan kepada generasi mendatang melalui pendidikan dan karya nyata.