SMKN 3 Kota Bima Kirim Siswa PKL ke Labuan Bajo, Perkuat Kompetensi Pemanduan Wisata

SMKN 3 Kota Bima Kirim Siswa PKL ke Labuan Bajo, Perkuat Kompetensi Pemanduan Wisata

KOTA BIMA – SMK Negeri 3 Kota Bima terus memperluas pengalaman belajar siswa melalui kemitraan dengan dunia usaha, dunia industri, dan instansi terkait. Salah satunya melalui pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan (PKL) bagi siswa Kompetensi Keahlian Usaha Layanan Wisata (ULW) di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Dalam kegiatan tersebut, siswa SMK Negeri 3 Kota Bima melaksanakan PKL di Balai Taman Nasional Komodo (BTNK), salah satu destinasi konservasi dan pariwisata unggulan yang menjadi bagian penting dari ekosistem pariwisata Labuan Bajo.

Kerja sama antara SMK Negeri 3 Kota Bima dengan Balai Taman Nasional Komodo telah terjalin dengan baik selama tiga tahun terakhir. Kemitraan tersebut menjadi bagian penting dalam memberikan pengalaman kerja nyata kepada siswa, khususnya dalam mengembangkan kompetensi yang berkaitan langsung dengan bidang Usaha Layanan Wisata.

Selama mengikuti PKL, siswa mendapatkan kesempatan untuk mengenal secara langsung lingkungan kerja kepariwisataan, pelayanan wisatawan, serta praktik guiding atau pemanduan wisata. Pengalaman tersebut menjadi sangat relevan dengan kompetensi yang dipelajari siswa di sekolah karena mereka dapat mengimplementasikan pengetahuan dan keterampilan dalam situasi kerja yang sesungguhnya.

Hasil kerja sama tersebut dinilai memberikan dampak positif terhadap peningkatan kompetensi siswa. Salah satu indikatornya dapat dilihat dari lulusan SMK Negeri 3 Kota Bima yang telah bekerja di sejumlah Travel Agent dan kapal wisata di Labuan Bajo.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pengalaman PKL tidak hanya memberikan pengalaman belajar bagi siswa, tetapi juga mampu menjadi salah satu jembatan menuju dunia kerja.

Kepala SMK Negeri 3 Kota Bima, Jainuddin, S.Pd., MM, mengatakan bahwa pelaksanaan PKL di Labuan Bajo merupakan bagian dari strategi sekolah untuk mendekatkan pembelajaran dengan kebutuhan industri pariwisata.

“Kami sangat mengapresiasi kerja sama yang telah terjalin dengan Balai Taman Nasional Komodo selama tiga tahun terakhir. Bagi kami, PKL bukan sekadar kegiatan untuk memenuhi kewajiban pembelajaran, tetapi merupakan proses penting untuk membentuk kompetensi, karakter, disiplin, dan profesionalisme siswa sebelum mereka memasuki dunia kerja,” ujar Jainuddin.

Menurutnya, Labuan Bajo merupakan salah satu kawasan pariwisata yang memiliki perkembangan sangat pesat sehingga menjadi tempat yang tepat bagi siswa Usaha Layanan Wisata untuk memperoleh pengalaman profesional.

“Kami berharap pengalaman yang diperoleh siswa selama berada di Labuan Bajo dapat menjadi modal ketika mereka kembali ke sekolah maupun ketika memasuki dunia kerja. Terlebih sudah ada alumni kami yang bekerja di Travel Agent dan kapal wisata di Labuan Bajo. Ini menjadi bukti bahwa kompetensi yang dibangun melalui pembelajaran dan PKL memiliki relevansi dengan kebutuhan industri,” tambahnya.

Jainuddin juga menegaskan bahwa sekolah akan terus memperluas dan memperkuat kemitraan dengan berbagai pihak, khususnya industri dan lembaga yang bergerak di bidang pariwisata.

“Target kami adalah membangun ekosistem pendidikan vokasi yang benar-benar terhubung dengan dunia kerja. Siswa belajar di sekolah, mendapatkan pengalaman di industri, kemudian memiliki peluang untuk terserap menjadi tenaga kerja profesional,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Kompetensi Keahlian Usaha Layanan Wisata, Yati, SST.Par, menyampaikan bahwa kerja sama dengan Balai Taman Nasional Komodo memberikan kontribusi besar terhadap penguatan kompetensi siswa, khususnya dalam bidang guiding atau pemanduan wisata.

“Selama tiga tahun bekerja sama dengan BTNK, kami melihat perkembangan yang sangat positif. Siswa mendapatkan pengalaman langsung bagaimana melayani wisatawan, berkomunikasi, memberikan informasi destinasi, serta memahami bagaimana seorang pemandu wisata harus bersikap profesional,” ungkap Yati.

Menurut Yati, pengalaman berada di kawasan destinasi wisata secara langsung memberikan pembelajaran yang sulit diperoleh hanya melalui teori di ruang kelas.

“Anak-anak tidak hanya belajar teori tentang guiding, tetapi mereka melihat dan mengalami langsung bagaimana pelayanan wisata dilakukan. Mereka belajar berkomunikasi dengan wisatawan, memahami karakter wisatawan, menjaga etika sebagai pemandu, sekaligus mengenal potensi wisata dan konservasi yang ada di kawasan Taman Nasional Komodo,” jelasnya.

Ia menambahkan, keberhasilan program tersebut juga dapat dilihat dari jejak lulusan yang mampu melanjutkan karier di industri pariwisata Labuan Bajo.

“Adanya alumni yang kemudian bekerja di Travel Agent maupun kapal wisata di Labuan Bajo menjadi salah satu indikator bahwa pengalaman PKL memberikan dampak terhadap kesiapan kerja siswa. Ini yang terus kami dorong agar semakin banyak lulusan ULW yang terserap di industri pariwisata,” kata Yati.

Pelaksanaan PKL di Labuan Bajo sekaligus menjadi bagian dari upaya SMK Negeri 3 Kota Bima dalam memperkuat link and match antara pendidikan vokasi dengan kebutuhan dunia kerja.

Melalui pengalaman langsung di kawasan pariwisata, siswa diharapkan mampu mengembangkan keterampilan teknis, komunikasi, pelayanan wisata, kemampuan pemanduan, kedisiplinan, tanggung jawab, serta etika profesional.

Dengan keberlanjutan kerja sama bersama Balai Taman Nasional Komodo, SMK Negeri 3 Kota Bima optimistis kompetensi siswa Usaha Layanan Wisata akan semakin kuat dan relevan dengan perkembangan industri pariwisata.

Dari Kota Bima menuju Labuan Bajo, siswa tidak hanya belajar tentang pariwisata, tetapi juga membangun pengalaman dan jejaring yang dapat menjadi bekal menuju masa depan sebagai tenaga profesional di industri pariwisata.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top