Program TAPSI Gubernur NTB Diimplementasikan melalui Projek Budidaya Cabai di SMKN 3 Kota Bima
Kota Bima — Program Gerakan Tanam Cabai & Pengendalian Inflasi (TAPSI) yang diinisiasi oleh Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) terus didorong untuk diimplementasikan di lingkungan satuan pendidikan. Di SMK Negeri 3 Kota Bima, gerakan tersebut diwujudkan melalui kegiatan kokurikuler berupa Projek Budidaya Tanaman Cabai yang terintegrasi dengan pembelajaran intrakurikuler, khususnya mata pelajaran Projek IPAS.
Kegiatan ini menjadi bentuk nyata pembelajaran kontekstual yang menghubungkan materi yang dipelajari siswa di ruang kelas dengan permasalahan dan kebutuhan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, terutama terkait ketahanan pangan, pemanfaatan lahan, kepedulian terhadap lingkungan, serta pengendalian kebutuhan pangan.
Melalui kegiatan menanam dan memelihara tanaman cabai, siswa tidak hanya memperoleh pengalaman bercocok tanam, tetapi juga diajak memahami berbagai konsep dalam Projek IPAS, seperti pertumbuhan dan perkembangan tanaman, kebutuhan makhluk hidup, kondisi tanah, air, cahaya, unsur hara, perubahan cuaca, serta pemanfaatan sumber daya alam secara bijak.
Guru pengampu Projek IPAS, Wieduri Yulianti, S.T., M.Pd, menjelaskan bahwa Projek Budidaya Tanaman Cabai dirancang sebagai kegiatan pembelajaran yang mengintegrasikan Projek IPAS dan Projek Kokurikuler melalui aktivitas nyata.
“Kegiatan ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk menghubungkan pengetahuan yang mereka dapatkan di kelas dengan praktik secara langsung. Mereka melakukan pengamatan terhadap pertumbuhan tanaman, mencatat perubahan yang terjadi, mengidentifikasi faktor yang memengaruhi pertumbuhan, sekaligus belajar mencari solusi terhadap permasalahan yang muncul selama proses budidaya,” jelas Wieduri.
Menurutnya, rangkaian kegiatan tidak berhenti pada proses penanaman. Siswa terlibat mulai dari persiapan media tanam, penanaman, pemeliharaan, pengamatan pertumbuhan, pengendalian hama dan penyakit secara ramah lingkungan, pemanenan, hingga melakukan refleksi terhadap manfaat kegiatan.
“Melalui projek ini, siswa belajar bahwa budidaya cabai tidak hanya berkaitan dengan tanaman, tetapi juga memiliki hubungan dengan aspek lingkungan, ekonomi, pangan, dan kehidupan masyarakat. Inilah yang menjadi kekuatan pembelajaran berbasis projek,” tambahnya.
Selain memperkuat pemahaman akademik, kegiatan tersebut juga menjadi sarana penguatan karakter siswa. Dalam prosesnya, siswa dilatih untuk bekerja sama, bertanggung jawab, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, memecahkan masalah, serta memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat.
Kepala SMK Negeri 3 Kota Bima, Jainuddin, S.Pd., MM, menyampaikan apresiasinya terhadap pelaksanaan Projek Budidaya Tanaman Cabai sebagai bagian dari implementasi TAPSI di lingkungan sekolah.
“Kami sangat mendukung kegiatan ini karena sejalan dengan semangat pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada teori, tetapi juga memberikan pengalaman nyata kepada siswa. Program TAPSI menjadi momentum bagi sekolah untuk menanamkan kesadaran tentang ketahanan pangan sekaligus memperkuat karakter dan kompetensi siswa,” ujar Jainuddin.
Ia menambahkan, kegiatan tersebut diharapkan dapat membangun budaya produktif dan mandiri di kalangan siswa. Tanaman cabai yang dibudidayakan di lingkungan sekolah dapat menjadi contoh sederhana bahwa lahan yang tersedia dapat dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan pangan sekaligus menjadi sumber pembelajaran.
“Harapan kami, siswa tidak hanya memahami bagaimana cara menanam cabai, tetapi juga memahami hubungan antara produksi pangan, kebutuhan masyarakat, lingkungan, dan ekonomi. Pengalaman ini diharapkan dapat membentuk generasi yang kreatif, mandiri, bertanggung jawab, dan peduli terhadap ketahanan pangan,” lanjutnya.
Implementasi TAPSI melalui kegiatan kokurikuler ini juga memperlihatkan bahwa pembelajaran di SMK Negeri 3 Kota Bima dapat dikembangkan melalui pendekatan yang kontekstual dan berbasis pengalaman. Siswa belajar dari proses, menghadapi persoalan nyata, melakukan pengamatan, bekerja dalam kelompok, hingga melihat hasil dari usaha yang mereka lakukan.
Lebih jauh, kegiatan budidaya cabai diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran bahwa sekolah bukan hanya tempat memperoleh pengetahuan, tetapi juga ruang untuk membangun keterampilan hidup dan karakter. Budidaya tanaman cabai dapat menjadi langkah kecil dalam mendukung ketahanan pangan, mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar, serta menumbuhkan budaya produktif dan mandiri di lingkungan sekolah.
Dengan demikian, Program TAPSI Gubernur NTB melalui Gerakan Tanam Cabe & Pengendalian Inflasi tidak hanya diimplementasikan sebagai gerakan menanam, tetapi dikembangkan menjadi pengalaman pembelajaran yang bermakna. Melalui integrasi kegiatan kokurikuler dengan pembelajaran Projek IPAS, siswa SMK Negeri 3 Kota Bima memperoleh kesempatan untuk belajar secara langsung sekaligus memperkuat keterampilan, pengetahuan, dan karakter yang dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat.